Translate

Rupiah Melemah Tapi Jauh Lebih Kuat Dibanding Lira dan Peso


Nilai pertukaran Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah dalam beberapa pekan terakhir. Namun pelemahan rupiah ini tidak terlalu parah jika di bandingkan dengan mata uang di beberapa negara lainnya.

Faktor penurunan nilai tukar Rupiah bukan karen pertumbuhan ekonomi Indonesia yang buruk. Tetapi karena murni faktor external. Dan sejaauh ini Pertumbuhan ekonomi di Indonesia telah jauh lebih baik di banding tahun tahun sebelumnya.






Diambil dari data Reuters, sejak awal tahun sampai Akhir Agustus, rupiah hanya melemah 8,4 persen. Angka ini jelas lebih kecil jika kita dibandingkan dengan negara berkembang yang lain.
Dalam waktu yang sama rupe india mengalami 1,4 persen dan rube rusia tertekan hingga 15,1 persen, dan mata uang rand afrika selatan melemah hingga 16,7 persen.
Dan untuk mata uang real Brasil mengalami tekanan yang cukup dalam mencapai 20,4 persen.
Lira Turki sendiri pelemahannya hingga 42,9 persen dan peso Argentina mengalami pelemahan hingga 51,1 persen.

Dan khusus sepanjang bulan Agustus 2018, Rupiah hanya melemah sebanyak 1,6 persen.
Cukup jauh di bawah peso yang tercatat 26 persen dan lira yang mencapai 25 persen.
Chief Market Strategist FXTM Hussein Sayed telah menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah ini bukanlah karena faktor dari dalam negeri tetapi lebih karena faktor eksternal.

"Aksi jual lira Turki dan peso Argentina sangat berperan pada depresiasi drastis rupiah," menurut penjelasannya.

Pada masa saat ini memang benar Turki dan Argentina masih dalam fase ketidakpastian dalam hal ekonomi. Hal tersebut tentu  membuat para investor mulai melepas aset-asetn beresikonya seperti mata uang di Negara-negara berkembang termasuk Negara Indonesia (Rupiah).
Tetapi memang pelemahan rupiah tidak terlalu besar di bandingkan Negara lain karena kondisi ekonomi makronya cukup stabil. Dan bahkan BI sebelummnya telah melakukan aksi antisipasi dengan menaikkan suku bunga acuan selama beberapa kali untuk menstabilkan ini.

Beberapa waktu sebelumnya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (Mirza Adityaswara) mengatakan bahwa seharusnya pelemahan Rupiah ini tidak perlu ditakutkan karena stabilitas ekonomi dan keuangan di Indonesia masih bisa terjaga dengan baik.

"Likuiditas terjaga baik, non performing loan (NPL) di perbankan Indonesia bahkan menurun dibandingkan 2015 dari 3,2 persen menjadi 2,7 persen." kata Mirza Adityaswara.

Mirza mengakui bahwa nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar AS. Tetapi tekanan itu tak hanya dialami oleh rupiah saja.
"Sebenarnya di dunia ini yang melemah bukan cuma rupiah. Swedish crown juga melemah 10%, dan dolar Australia juga ikut melemah 6 persen. Jadi di seluruh dunia ini melemah terhadap dolar AS," jelas dia pada 31 Agustus 2018.

Beberapa penyebab utama yang membuat nilai tukar di seluruh dunia melemah terhadap dolar AS. Penyebab pertamanya adalah kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Sentral AS atau the Federal Reserve.
Dalam kenaikan suku bunga ini juga membuat dana-dana yang tadinya parkir di negara berkembang seperti Indonesia juga pulang kembali ke tempat asal. Akibat dari itu semua pasokan dolar AS di RI berkurang jauh.

Alasan keduanya adalah adanya strategi ekonomi yang dijalankan oleh Presiden AS (Donald Trump). Berbagai macam perang dagang yang dijalankan oleh AS membuat investor mencari instrumen investasi yang akan yaitu dolar AS.



0 Response to "Rupiah Melemah Tapi Jauh Lebih Kuat Dibanding Lira dan Peso"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel