Langsung ke konten utama

KEBERHASILAN PEMERINTAHAN INDONESIA


INDONESIA NEGARA DENGAN TINGKAT 
KEPERCAYAAN MASYARAKAT TERTINGGI


Survey Gallup menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat indonesia terhadap pemerintahan terus meninggi di banding tahun tahun sebelumnya. Terbukti dengan dinobatkannya Indonesia menjadi Negara dengan tingkat kepercayaan tertinggi. Yang mengalahkan Negara-negara maju lainnya.

Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani mengatakan, Indonesia menduduki peringkat pertama dalam hal tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah berdasarkan hasil survey GWP (Gallup World Poll).

Diambil dari siaran pers resmi Istana, Pada selasa (18/7/2017), Sri Mulyani telah melaporkan hasil survei ini kepada Presiden Joko Widodo.  "Memang benar bahwa Indonesia menduduki ranking pertama dalam hal 'trust and confidence in national government' berdasarkan data survey Gallup,"

Angka tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap pemerintah itu cukup tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara maju yang telah tergabung didalam OECD (Organization for Economic Co-operation and Development), seperti Amerika Serikat 30%, Inggris 31%, Jerman 55%,dan Perancis 28%. Tidak hanya negara yang tergabung dalam OECD saja, negara yang tidak tergabung di dalamnya juga masih jauh di bawah Indonesia, yakni India 73%, Brazil 26% dan Afrika Selatan 48%.


Tapi Pemerintah Indonesia diminta tidak terlalu percaya diri terhadap survei sebuah lembaga internasional yang menempatkan Indonesia berada di peringkat pertama untuk tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Seorang pengamat mengatakan, walaupun survei itu dapat mendongkrak kenaikan investasi di Indonesia, pemerintah harus tetap menyelesaikan pekerjaan rumah yang terpenting, yaitu untuk mengejar pertumbuhan ekonomi.
Laporan terbaru Organization for Economic Cooperation and Development, OECD, mencatat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah Indonesia pada 2016 sebesar 80 persen, melesat dibanding tahun 2007 yang hanya 28 persen.Dalam laporan yang dirilis 13 Juli lalu, OECD merangkum berbagai indikator pencapaian sektor pubik dari negara-negara yang tergabung dalam OECD serta beberapa negara lain, termasuk Indonesia.
Diantara enam peringkat teratas negara-negara tersebut adalah Indonesia, Swiss, India, Luksemburg, Norwegia dan Kanada.Menurut Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, pencapaian ini menjadi berita bagus bagi pemerintah Indonesia, paling tidak dalam hal ekonomi, menjadi iming-iming untuk meyakinkan investor menggelontorkan investasinya di Indonesia.
"Mereka (investor) akan semakin confident bahwa stabilitas politik, keamanan di Indonesia akan membaik karena tingkat kepercayaan terhadap pemerintah tinggi," ujar Enny kepada wartawan BBC Indonesia, Ayomi Amindoni, Kamis (20/07).
Kendati begitu ia mengingatkan pemerintah untuk tidak cepat puas dan terlalu percaya diri dengan pencapaian ini sehingga lupa menyelesaikan pekerjaan rumah yang terpenting, yaitu untuk mengejar pertumbuhan ekonomi demi kesejahteraan rakyat.
"Ini satu realitas juga yang perlu kita pahami karena goal akhir yang diharapkan masyarakat dari pemerintah maupun kinerja ekonomi kita adalah peningkatan kesejahetaraan masyarakat," cetusnya.
Melampaui Negara Maju
"Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dipengaruhi oleh apakah masyarakat menganggap pemerintah dapat diandalkan, cepat tanggap dan adil serta mampu melindungi masyarakat dari risiko-risiko dan memberikan pelayanan publik secara efektif," jelasnya.
Tingkat kepercayaan ini merupakan angka tertinggi jika dibandingkan dengan negara-negara maju tergabung dalam OECD maupun negara-negara berkembang non-OECD. Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah Jerman hanya 55 persen, Inggris 31 persen, Amerika Serikat hanya 30 persen, Prancis 28 persen, ungkap survei tersebut. Disebutkan pula, tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia kepada Presiden Jokowi melampaui tingkat kepercayaan masyarakat India kepada Perdana Menteri Narendra Modi, yang hanya sebesar 73 persen, Afrika Selatan 48 persen dan Brasil 26 persen.
Menurut Sri Mulyani, ini merupakan pertanda bahwa pemerintah telah bekerja dengan baik yang diikuti oleh apresiasi masyarakat indonesia yang menaruh kepercayaan terhadap pemerintahnya.
"Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah adalah pendorong efektivitas pemerintah dan pembangunan ekonomi, serta merupakan ukuran dari hasil kebijakan pemerintah," kata Sri Mulyani.

Mekanisme Survei OECD
OECD menggunakan hasil survei yang telah dilakukan oleh salah satu lembaga survei internasional yang berbasis di Amerika Serikat yaitu GWP (Gallup World Poll). GWP mengukur tingkat kepercayaan dengan mengambil sampel 1000 responden di negara tersebut dan memberi pertanyaan tunggal apakah responden tersebut memiliki kepercayaan terhadap pemerintahnya atau tidak.

Pengamat ekonomi dari CSIS (Center for Strategic and International Studies) Yose Rizal Damuri menegaskan meski parameter dalam survei yang dibuat oleh OECD tersebut tidak terlalu jelas, jika dilihat dari survei konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia setiap bulan memang menujukkan tren perbaikan.
"Jadi index kepercayaan, baik konsumen dan bisnis, mengalami kenaikan. Cuma kenaikan ini memang terus menerus ada. Artinya, tingkat kepercayaan konsumen dan bisnis dari dulu-dulu, jadi bukan sesuatu yang baru. Kendati begitu, Survei Konsumen Bank Indonesia pada bulan Juni mengindikasikan bahwa tingkat keyakinan konsumen tetap dalam level optimis, meskipun melemah dibandingkan bulan sebelumnya.
Hal ini tercermin dari IKK (Indeks Keyakinan Konsumen) pada Juni 2017 yang tetap tinggi sebesar 122,4 atau turun 3,5 poin dari Mei 2017. Hasil survei mengindikasikan bahwa penghasilan saat ini membaik didorong oleh penerimaan THR (Tunjangan Hari Raya) dan meningkatnya pendapatan usaha.Namun persepsi konsumen terhadap terbatasnya ketersediaan lapangan kerja, baik pada saat ini maupun dalam 6 bulan mendatang menyebabkan IKK pada bulan ini mengalami penurunan.

Indikator Ekonomi Stagnan

Lebih jauh, Enny menjelaskan, jika mengacu pada pencapaian ekonomi, indikator-indikator ekonomi justru menunjukkan kondisi yang relatif stagnan. Misalnya, kebanyakan investasi yang mengalir ke Indonesia selama ini justru investasi portofolio, sementara pertumbuhan penanaman modal asing, atau foreign direct investment (FDI) masih sangat minim.
Belum lagi destinasi dari investasi itu kebanyakan ke sektor-sektor industri primer dan tersier. Padahal, pemerintah menghendaki agar investasi masuk ke sektor industri manufaktur padat karya yang merupakan industri sekunder. Hasilnya, penciptaan tenaga kerja juga masih minim.
"Kebanyakan yang masuk justru di dua sektor itu, seperti sektor sumber daya alam dan di sektor jasa. Sementara di industri sekunder, seperti industri padat karya masih minus," tutur Enny
Apalagi, indikator ekonomi pada bulan Juni lalu justru menunjukkan kinerja negatif. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir tidak pernah terjadi dimana ada momentum hari raya Idul Fitri justru pertumbuhan di sektor perdagangan kita minus. "Artinya, terjadi penurunan daya beli masyarakat yang luar biasa," kata dia.
Di samping itu, percepatan pembangunan infrastruktur dan percepatan stimulus ekonomi yang dilakukan pemerintah, bahkan hingga keluar 15 paket kebijakan stimulus ekonomi belum mampu menunjukkan reformasi sektor riil yang signifikan.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terakhir juga mencatat angka kemiskinan malah naik, sementara gini ratio -atau tingkat ketimpangan pendapatan- berada di posisi yang stagnan.
"Ini yang menurut saya harus benar-benar jujur mengevalusi berbagai macam situasi, antara penilaian investment grade, kita punya pertumbuhan ekonomi nomor 3 diantara negara-negara G-20, tapi kita tidak bisa menafikkan bahwa indikator ekonomi yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan ekonomi," jelas Enny.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gojek Rugi Miliaran Karena GPC (Google Play Code). 1 Akun 1 Milyar!

Beberapa hari ini dunia maya tengah dihebohkan dengan Bug dari salah satu aplikasi penyedia ojek online, yaitu Go-Jek. Dikarenakan bug yang terdapat pada aplikasinya baru baru ini membuat banyak orang dapat meraup keuntungan secara sangat tidak wajar. Dan menyebabkan Go-Jek rugi milyaran rupiah.
Mungkin tidak semua orang mengetahui tentang bug tersebut. Tapi celah ini telah viral di salah satu social media yaitu facebook. Dikarenakan kegilaan yang dapat membuat keuntungan 10x lipat lebih. Karena dalam sistemnya, pengguna dapat membeli Google Play Code dengan nominal 500.000 hanya dengan membayar sebanyak 20.000 saja, mengerikan bukan ? Ya, memang ini sangat menguntungkan bagi para pengguna. Tapi tidak untuk Go-Jek itu sendiri. Kabarnya kurang lebih 20 enginer / karyawan di Go-Jek terancam di pecat karena melalaikan bug yang sangat fatal.
Untuk menangani hal ini, pihak Go-Jek segera menaggapi dengan sangat serius karena telah merasa sangat di rugikan oleh pihak pihak yang tidak bertanggung…

Istri Obama Adalah Laki Laki (Transgender)

Ahli teori konspirasi Alex Jones mengklaim dia memiliki "bukti terakhir" bahwa mantan Ibu Negara Amerika Serikat adalah seorang laki-laki. Dalam video berdurasi 12 menit, pembawa Infowars menganalisis cuplikan dan foto yang ia yakini membuktikan bahwa Obama memiliki penis.
"Sejak hari-hari awal pemerintahan Obama, warga di seluruh papan telah mempelajari video dan foto Michelle Obama dan mengatakan bahwa dia adalah seorang laki-laki," kata atlet itu terkejut. "Dan bahkan Barack Obama telah memanggilnya lagi dan lagi Michael. Tapi rekaman kejutan baru telah muncul yang disensor dari internet secepat yang Anda bisa unggah."
Didalam video tersebut, Mr Jones menampilkan serangkaian gambar dari Obama dan menunjukkan lipatan di gaun dan celana panjangnya yang dia katakan adalah bukti dia memiliki penis.
Rekaman "shock" adalah video pendek seorang wanita yang menunjukkan seseorang berkata: "Michelle adalah transgender, kita semua tahu itu"…

Rupiah Melemah Tapi Jauh Lebih Kuat Dibanding Lira dan Peso

Nilai pertukaran Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah dalam beberapa pekan terakhir. Namun pelemahan rupiah ini tidak terlalu parah jika di bandingkan dengan mata uang di beberapa negara lainnya.
Faktor penurunan nilai tukar Rupiah bukan karen pertumbuhan ekonomi Indonesia yang buruk. Tetapi karena murni faktor external. Dan sejaauh ini Pertumbuhan ekonomi di Indonesia telah jauh lebih baik di banding tahun tahun sebelumnya.






Diambil dari data Reuters, sejak awal tahun sampai Akhir Agustus,rupiah hanya melemah 8,4 persen. Angka ini jelas lebih kecil jika kita dibandingkan dengan negara berkembang yang lain. Dalam waktu yang sama rupe india mengalami 1,4 persen dan rube rusia tertekan hingga 15,1 persen, dan mata uang rand afrika selatan melemah hingga 16,7 persen. Dan untuk mata uang real Brasil mengalami tekanan yang cukup dalam mencapai 20,4 persen. Lira Turki sendiri pelemahannya hingga 42,9 persen dan peso Argentina mengalami pelemahan hingga 51,1 persen.
Dan khusus sepa…